Studium Generale STIT Maskumambang dan Pusat Kajian Akidah IHKAM: Peran Strategis Guru Al-Qur’an dan PAI Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Gresik – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Maskumambang bekerja sama dengan Pusat Kajian Akidah IHKAM sukses menyelenggarakan Studium Generale bertema “Peran Strategis Guru Al-Qur’an dan PAI untuk Indonesia Emas 2045” pada Rabu (24/6/2026) di Aula Putra Pondok Pesantren Maskumambang. Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Nur Fajri Romadhon sebagai narasumber ini berlangsung dengan penuh antusias dan diikuti oleh sekitar 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, guru Al-Qur’an, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), santri, serta masyarakat umum.

Acara ini menjadi wadah akademik sekaligus ruang refleksi bagi para pendidik Islam dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045. Peserta tampak aktif mengikuti jalannya diskusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait tantangan pendidikan Islam di era global.

Guru Al-Qur’an dan PAI Sebagai Penggerak Perubahan Bangsa

Dalam pemaparannya, Ustadz Nur Fajri Romadhon, pemegang Sanad Al-Qur’an 10 Qira’at, Da’i Nasional, dan Koordinator Riset Pusat Kajian Akidah IHKAM, menegaskan bahwa guru Al-Qur’an dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis yang jauh melampaui tugas mengajar di ruang kelas. Menurutnya, guru bukan sekadar penyampai materi keagamaan, tetapi merupakan murabbi (pendidik), pembimbing moral, sekaligus agen transformasi sosial yang bertanggung jawab membentuk karakter dan arah peradaban bangsa.

Beliau menjelaskan bahwa tantangan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi, kemajuan teknologi, atau peningkatan kualitas sumber daya manusia. Yang lebih mendasar adalah bagaimana bangsa ini mampu melahirkan generasi yang memiliki akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, kecakapan intelektual, etos kerja yang tinggi, serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Di sinilah posisi guru Al-Qur’an dan PAI menjadi sangat penting sebagai garda terdepan dalam proses pembentukan karakter generasi bangsa.

Menurut beliau, guru Al-Qur’an dan PAI merupakan agen perubahan (agent of change) yang memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, membangun budaya berpikir kritis yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, serta membimbing peserta didik agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Menguatkan Islamic Work Ethics dan Ketahanan Keluarga

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya Islamic Work Ethics (Etika Kerja Islami) sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang profesional dan berintegritas. Guru Al-Qur’an dan PAI diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai amanah, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan profesionalisme kepada peserta didik sejak dini.

Selain itu, keluarga dipandang sebagai benteng utama pendidikan karakter. Oleh karena itu, guru tidak hanya mendidik peserta didik di sekolah, tetapi juga berperan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga yang harmonis, religius, dan mampu menjadi lingkungan pertama dalam membentuk akhlak generasi penerus bangsa.

Mendorong Budaya ZISWAF, Anti Korupsi, dan Kepemimpinan yang Saleh

Dalam sesi berikutnya, narasumber menyoroti pentingnya membangun kesadaran sosial melalui Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) sebagai instrumen pemerataan ekonomi umat.

Guru Al-Qur’an dan PAI diharapkan menjadi pelopor dalam memasyarakatkan budaya berbagi, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus menanamkan nilai anti korupsi dengan membangun budaya menolak suap (risywah) dalam setiap aspek kehidupan.

Beliau juga mengingatkan pentingnya memberikan pendidikan politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, sehingga umat mampu memilih pemimpin dan wakil rakyat yang saleh, berintegritas, kompeten, serta muslih, yaitu mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Menjawab Tantangan Global Menuju 2045

Materi juga mengulas berbagai dinamika global yang diperkirakan akan semakin memengaruhi kehidupan umat Islam di masa depan. Isu geopolitik Timur Tengah, hubungan internasional, hingga perkembangan demografi dunia menjadi perhatian penting.

Narasumber menjelaskan bahwa pada tahun 2045 jumlah penduduk Muslim dunia diproyeksikan semakin mendekati jumlah pemeluk Kristen, termasuk pertumbuhan populasi Muslim di berbagai negara Barat. Kondisi tersebut menuntut lahirnya generasi Muslim yang memiliki wawasan global, kemampuan berpikir kritis, serta mampu menjadi duta Islam yang moderat, berilmu, dan berakhlak mulia di tengah masyarakat internasional.

Menumbuhkan Semangat Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Guru Al-Qur’an dan PAI juga memiliki tanggung jawab untuk membangun motivasi generasi muda agar memiliki cita-cita yang tinggi tanpa melupakan orientasi akhirat.

Peserta diajak memahami bahwa kesuksesan sejati adalah keseimbangan antara prestasi akademik, profesionalisme, kontribusi sosial, dan kualitas spiritual. Karena itu, generasi muda perlu diarahkan untuk memanfaatkan waktu secara produktif, menjauhi perbuatan dosa, serta menghindari aktivitas yang sia-sia sehingga mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Pendidikan Islam dan Kepedulian terhadap Lingkungan

Isu lingkungan turut menjadi perhatian dalam Studium Generale ini. Narasumber menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam sebagai khalifah di bumi.

Guru Al-Qur’an dan PAI didorong untuk menjadi motor penggerak berbagai gerakan peduli lingkungan, seperti menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan masyarakat, melestarikan sumber daya air, melakukan penanaman pohon, mengurangi pencemaran, serta membiasakan penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan guna mengurangi emisi karbon.

Menurut beliau, pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab kepada Allah SWT.

Antusiasme Peserta Warnai Jalannya Diskusi

Kegiatan berlangsung dengan suasana interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti materi hingga sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari implementasi etika kerja Islami di lingkungan pendidikan, strategi penguatan keluarga, hingga tantangan guru PAI dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial di era digital.

Diskusi yang berlangsung hangat menunjukkan tingginya semangat peserta untuk meningkatkan kompetensi sebagai pendidik sekaligus agen perubahan di masyarakat.

Komitmen STIT Maskumambang Membangun Pendidikan Islam Berkualitas

Melalui penyelenggaraan Studium Generale ini, STIT Maskumambang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum-forum ilmiah yang relevan dengan tantangan zaman serta mendukung peningkatan kualitas guru, mahasiswa, dan calon pendidik Islam.

Kolaborasi bersama Pusat Kajian Akidah IHKAM diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan masyarakat dalam melahirkan guru Al-Qur’an dan PAI yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta wawasan global demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

HUMAS STITMAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X